Tampilkan postingan dengan label S2 Magister Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S2 Magister Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juni 2013

Teori Moderinasi



A.    Gambaran Umum
Menurut Wilbert moore, konsep modernisasi ialah suatu transformasi secara menyeluruh masyarakat tradisional atau masyarakat pramodern menjadi masyarakat yang corak teknologi serta organisasi sosialnya berkaitan seperti apa yang terdapat di Negara-negara Dunia Barat yang maju – makmur dari segi ekonomi dan secara relatif stabil dari segi politik (Moore, dalam Norman Long: 1987: 13). Pandangan ini adalah berdasarkan asumsi dimana seseorang itu dapat menguji ciri-ciri umum masyarakat “Tradisional” dan masyarakat “Maju” atau “Modern” Tersebut, dan dengan itu dapat dianggap bahwa pembangunan adalah suatu transformasi dari satu jenis ke jenis yang lain.
Di antara percobaan-percobaan untuk merumuskan model yang menggambarkan proses ini, percobaan Neil Smelser (1963) nampaknya sangat baik. Percobaan Smelser ini berasaskan konsep diferensiasi structural. Baginya, perkembangan ekonomi dan masyarakat itu mempunyai (sebagai ciri utama) struktur yang sangat berbeda, manakala perekonomian dan masyarakat terbelakangpun secara relatif tidak berbeda jauh. Perubahan bagi smelser, berkisar disekitar proses itu sendiri. Dengan differensiasi, Smelser mengartikan bahwa proses sama halnya sebagaimana unit-unit sosial yang khusus berotonomi itu dibentuk. Pembentukan unit-unit sosial seperti ini tampaknya sama dengan berlaku di dalam beberapa bidang yang berbeda: dalam bidang ekonomi, keluarga, sistem politik dan institusi-institusi politik.
Para ahli teori yang terakhir, khususnya Eisenstadt (1966; 1970), telah mempertajam pendekatan ini dengan memperhitungkan akan timbulnya perbedaan-perbedaan dikalangan masyarakat-masyarakat yang digolongkan di bawah satu konsep yaitu “tradisional” atau pramodern, dan juga dengan membedakan proses-proses yang berbeda yakni degan mana modernisasi dapat dimulai.
Proses modernisasi mungkin dapat dimulai dari kelompok kesukuan-kesukuan, dari masyarakat berkasta, dari berbagai jenis masyarakat tani dan masyarakat-masyarakat yang sudah berada di berbagai tingkat dan jenis urbanisasi. Kelompok-kelompok ini mungkin berbeda dari segi sejauh mana mereka memiliki sumber-sumber serta usaha yang dibutuhkan untuk modernisasi. Mereka mungkin juga berbeda dari segi kemampuan untuk menyusun hubungan-hubungan yang lebih kompleks diantara bagian-bagian yang berbeda dengan masyarakat yang tergantung pada perbedaan sosial, dan juga dari segi sejauh mana mereka sanggup dan mampu berintegrasi ke dalam kerangka sosial yang baru dan lebih luas (Eisenstadt, 1970 : 25)   

B.     Opini Penulis
            Moderinisasi menurut penulis adalah sebuah proses menuju perubahan yang bersifat maju atau berkembang dari keadaan yang sebelumnya. Proses tersebut diantaranya adanya suatu keadaan yang pada umumnya lebih dari keadaan sebelumnya. Segala proses moderinasi ini biasanya terkait oleh kemajuan dalam hal moderinsasi teknologi, kebudayaan, bahkan suatu peradaban manusia. Suatu keadaan lebih maju ini bisa berdampak lebih baik kepada suatu sistem masyarakat yang akan menyebabkan kemajuan dari segi taraf hidup, pendapatan, dan gaya hidup. Namun, jika proses modernisasi tersebut bersifat negatif maka modernisasi akan mengakibatkan kesenjangan, ketidak-stabilan kondisi masyarakat, bahkan bisa menjadi konflik antar individu yang berakibat pengurangan stabilitas nasional.
            Modernisasi di eropa ditandai dengan adanya proses revolusi industri dari yang semula operasional proses industri itu dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia yang banyak. Dampak positif dari modernisasi seperti ini adalah dapat menyelesaikan proses produksi dengan lebih cepat, lebih efisien dari segi biaya, dan pemasaran bisa lebih cepat dan efisien, akan tetapi dampak negatif dari proses modernisasi itu sendiri adalah menambah jumlah pengangguran saat itu di Eropa. Dengan bertambahnya  pengangguran maka angka kriminalitas dan prostitusi juga akan bertambah dan menyebakan stabilitas nasional itu sedikit terganggu.
            Akibat modernisasi ada dua diantaranya yang bersifat positif diantara perubahan pola pikir dan pola kehidupan suatu individu maupun kelompok, sedangkan dampak negatif dari modernisasi itu adalah bergesernya nilai-nilai yang semula lebih baik sebelum adanya kemajuan, namun nilai-nilai tersebut menjadi hilang dikarenakan perkembangan yang sering berjalan lurus dengan modernisasi tersebut.
            Kita ambil contoh tradisi yang bersifat nilai-nilai luhur seperti membungkukkan badan saat berjalan di depan orang yang usianya lebih tua dibandingkan kita. Dalam era modern saat ini tradisi itu menjadi memudar bahkan cenderung hilang dikarenakan modernisasi-modernisasi yang sebenarnya bersifat menghilangkan norma-norma tersebut.
C.    Sejarah Lahirnya
Suwarsono, Alvin Y.S.O dalam bukunya “perubahan Sosial dan Pembangunan menyebutkan bahwa teori modernisasi itu muncul saat dimana Amerika muncul sebagai Negara digdaya meskipun saat itu mereka terseret dalam Perang Dunia ke II yang ternyata membuat Amerika Serikat semakin kuat dalam menjadi Negara yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi dunia.
            Menurut Suwarsono (1991:7) yang kedua menjadi sejarah lahirnya teori modernisasi adalah saat setelah perang dunia paham komunis atau persamaan sosial bagi para pengikutnya berkembang pesat, hal ini menyebabkan Amerika cenderung juga memperluas paham politiknya kepada dunia.
            Ketiga, banyak Negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika yang merupakan daerah jajahan bangsa Eropa. Negara tersebut serentak mencari model-model pembangunan yang nantinya akan digunakan sebagai contoh untuk mengembangkan ekonomi bagi negara tersebut. Dalam situasi seperti ini wajar jika Amerika Serikat memberikan fasilitias bagi para ilmuan sosialnya untuk mempelajari permasalahan Dunia Ketiga.
            Jadi disatu sisi Amerika Serikat sebagai Negara digdaya yang memberikan pengaruh kepada Negara berkembang untuk bermitra dengannya, namun disisi lain Negara berkembang tersebut mengambil contoh, mengambil bentuk kerjasama untuk membangun perekonomian bagi Negara tersebut.
            Jika pada masa sebelum Perang dunia ke II, persoalan pembangunan Negara di Dunia ketiga hanya sedikit sekali mendapatkan perhatian para ilmuan AS, namun setelah perang dunia ke II Degenerasi bagu ilmuan politik, ekonomi, para ahli sosiologi, psikologi, para ahli antropologi , serta ahli kependudukan menghasilkan karya-karya desertasi dan monograf tentang dunia ketiga. Satu pemikiran antardisiplin yang tergabung dalam ajaran modernisasi sedang terbentuk pada tahun 1950-an tersebut. Karya kajian teori modernisasi merupakan “industri yang tumbuh segar” sampai pertengahan 1960an (Gabriel dalam Suwarsono, 1991 : 8).   
D.    Permasalahan
Salah satu teori yang muncul dalam menjawab perubahan sosial masyarakat menuju modern kemudian dikenal dengan teori modernisasi. Teori ini mendasarkan pada konsep evolusionisme. Secara historis makna modernitas mengacu pada transformasi sosial, politik, ekonomi, kultural, dan mental yang terjadi di Barat sejak abad ke 16 dan mencapai puncaknya pada abad 19 dan 20 (Sztomka, 2008:149). Maka kemudian teori ini lebih pada menunjukkan tahap-tahap perubahan masyarakat pada arah tertentu yang kemudian dianggap mencerminkan manusia modern.
Teori evolusi dan teori fungsionalisme banyak mempengaruhi pemikiran tentang modernisasi sebagai faktor yang mewujudkan realitas perubahan. Dari sudut pandang ini,perkembangan masyarakat terjadi melalui proses peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Teori evolusi memandang perubahab bergerak secara linear dari masyarakat primitif menuju masyarakat maju. Dan bergerak perubahan itu mempunyai tujuan akhir. Sedangkan teori fungsionalisme, memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang selalu berada dalam keseimbangan dinamis. Perubahan yang terjadi dalam unsur sistem itu akan diikuti oleh unsur sistem lainnya dan membentuk keseimbangan baru.
Dalam teori modernisasi klasik masih berasumsi bahwa negara Dunia ketiga merupakan negara terbelakang dengan masyarakat tradisoonalnya. Sementara negara-negara Barat (Eropa dan Amerika Serikat) dilihat sebagai negara modern. Sehingga gejala dan kondisi yang terjadi dalam masyarakat diukur menurut pandangan Barat dalam menentukan tingkat modernitas. Sehingga tidak salah kalau Gramsci mengetakan telah terjadi hegemoni budaya terhadap negara Dunia ketiga. Masyarakat kemudian lebih banyak mengadaptasi nilai-nilai gaya hidup Barat sebagai identitas modern sehingga kecenderungan dilihat sebagai westernisasi.
Menurut Chuanqi dalam artikel The Civilization and Modernization yang dipresentasikan di World Congress of International Institute of Sociology Social Change in the Age of  Globalization mengatakan bahwa teori modern klasik pada periode 1950-1960-an dipelopori oleh munculnya buku-buku seperti The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle East (Lerner 1958), Politics of Modernization (Apter 1965), Modernization: Protest and Change (Eisenstadt 1966), Modernization: The Dynamics of Growth (Weiner 1966), Modernization and the Structure of Society (Levy 1966), The Dynamics of Modernization (Black 1966), The Stages of Economic Growth (Rostow 1960), Political Order in Changing Society ( Huntington 1968), dan lain-lain. Paling tidak pengertian umum tentang modernisasi adalah proses sejarah pada pada transformasi perubahan besar-besaran dari pertanian tradisional ke masyarakat industri modern sejak masa revolusi industri abad XVIII. Proses modernisasi berlangsung revolusioner, komplek, sistematik, global, jangka panjang dan progresiv. Sehingga akan menghasilkan kristalisasi dan difusi modernitas klasik.
Penganut modernisasi klasik memandang perkembangan masyarakat akan menuju pada suatu tata kehidupan masyarakat modern. Smelser, melihat fungsi kelembagaan modern lebih kompleks dari pada kelembagaan tradisional. Dalam perkembangan ekonomi menurut Rostow, masyarakat modern berada dalam tahap komsumsi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sedangkan masyarakat tradisional mengalami hanya sedikit perubahan baik dibidang ekonomi maupun social budaya.
Teori Modernisasi Rostow ini merupakan teori pertumbuhan tahapan linier (linier stage of growth  models). Dimana pembangunan dikaitkan dengan perubahan dari masyarakat agraris dengan budaya tradisional ke masyarakat rasional, industrial, dan berfokus pada ekonomi pelayanan.  pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh peningkatan secara kuantitas dan kualitas dari faktor produksi dalam sebuah negara yang meliputi tanah, tenaga kerja, modal, dan pengusaha.
Menurutnya terdapat 5 tahapan masyarakat menuju masyarakat modern. Tahap pertama yakni masyarakat tradisional yang mendasarkan pada pertanian, belum banyak menguasai ilmu pengetahuan, adanya kepercayaan terhadap kekuatan yang menguasai manusia, masyarakat cenderung statis dan produksi digunakan untuk konsumsi bukan investasi. Tahap kedua, Prakondisi u/ Lepas Landas dimana campur tangan dari luar telah merubah masyarakat tradisional sehingga muncul ide pembaharuan, ada usaha-usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat.
Tahap ketiga, Lepas Landas dimana mulai hilangnya hambatan proses pertumbuhan ekonomi, tabungan dan investasi meningkat, pertanian menjadi usaha komersial untuk mencari keuntungan bukan untuk konsumsi, industri baru berkembang pesat, dimana keuntungan ditanamkan kembali pad apabrik baru. Tahap keempat, Bergerak ke Kedewasaan yang mana teknologi mulai diadopsi secara meluas, negara memantapkan posisinya dalam perekonomian global dimana barang yangtadinya import kemudian diproduksi sendiri, serta peningkatan tabungan dan investasi. Sedangkan tahap terakhir kelima, Konsumsi Massal yg Tinggi, pada tahap ini konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup tetapi meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi, perubahan orientasi produksi dari kebutuhan dasar menjadi kebutuhan barang konsumsi tahan lama, surplus ekonomi tidak lagi digunakan untuk investasi tetapi digunakan untuk kesejahteraan sosial, dan pembangunan sudah berkesinambungan.
Beberapa ahli meneruskan kajian modernisasi klasik dengan mengamati perkembangan di tingkat masyarakat. David Mc.Clelland dalam bukunya The Achieving Society (1961), menggunakan pendekatan psikologi. Bagi dia, kemajuan di bidang ekonomi dipengaruhi tingkat kebutuhan berprestasi. Masyarakat modern di barat memiliki tingkat kebutuhan berprestasi yang tinggi. Teori ini sering disebut sebagai teori N-ach (need for achievement). Bahwa keingian atau kebutuhan berprestasi bukan sekedar untuk mendapatkan imbalan tetapi juga kepuasan. Pada tingkat makro pertumbuhan ekonomi yang tinggi didahului oleh n-ach yang tinggi.
Pendapat Inkeles menyatakan manusia modern tidak memperlihatkan gejala ketegangan atau penyakit psikologis akibat modernisasi, bahkan menunjukkan pola yang stabil. Menurut Alex Inkeles dalam bukunya becoming modern  menyatakan bahwa manusia modern paling tidak memiliki ciri-ciri: sikap membuka diri pada hal-hal yang baru; tidak terikat terhadap ikatan-ikatan institusi maupun penguasa tradisional; percaya pada ilmu pengetahuan; menghargai ketepatan waktu; dan melakukan segala sesuatu secara terencana.
Selanjutnya ahli sosiologi Max Weber juga ikut memperkaya kajian modernisasi melalui studinya tentang pengaruh ajaran agama terhadap kemajuan ekonomi. Bagi Weber nilai agama (etika) Protestan di barat telah menumbuhkan dorongan pada manusia untuk bekerja keras sebagai suatu tugas suci untuk mencapai kesejahteraan hidup.  Dalam Buku: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1996) Webe Weber menjjelaskan bahwa adanya kemajuan ekonomi yang pesat pada beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat dibawah sistem kapitalisme. Semangat kapitalisme dikarakterisasikan sebagai gagasan bahwa adanya akuisisi terhadap kemakmuran sebagai akhir pencapaian. Man is dominated by the making of money, by the acquisition of wealthas the ultimate purpose of his life. (halaman 53).  Semangat kapitalisme kemudian diterjemahkan sebagai perlakuan etos kerja pada suatu masa dan melampaui sejarah manusia yang disbeut tradisionalisme. A man does not ‘by nature’ wish to earn more and more money, but simply to live as he is accustomed to live and to earn as much as is necessary for that purpose (halaman 60). Makanya dari situ diperlukan suatu usaha untuk lebih mendapatkan uang. Sebagai hasil analisisnya adalah adanya etika Protestan. Dimana menjadi anggapan umum bahwa keberhasilan kerja di duni akan menentukan seseorang masuk surga atau neraka. Berdasarkan kepercayaan tersebut kemudian mereka bekerja keras utuk menghilangkan kecemasan. Sikap inilah yang diberi nama etika protestan. Konsep ini kemudian menjadi konsep umum yang tidak dihubungkanlagi dengan agama. Kajian Weber kemudian dikembangkan oleh Bellah pada masyarakat Jepang. Etika Samurai yang tercermin dalam nilai-nilai agama Tokugawa resisten dalam perkembangan ekonomi industri modern di Jepang.
Perubahan social dalam pandangan modernisasi klasik, menitikberatkan kemajuan masyarakat modern terbentuk melalui suatu proses yang sama. Pandangan ini ditinjau kembali oleh para penganut modernisasi aliran baru. Wong, misalnya menyatakan, kemajuan ekonomi di Hongkong digerakkan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki sistem organisasi tradisional yang bersifat nepotis, paternalistic dan kekeluargaan. Kasus Indonesia yang diamati Dove, memperlihatkan bahwa budaya local mengalami perubahan yang dinamis dalam dirinya. Sedangkan, Davis menilai ekonomi kapitalisme di Jepang tumbuh oleh terbentuknya rasionalisasi agama dan moral dalam lingkar barikade budaya. Dari sudut pandang politik, Huntington menyatakan budaya atau agama mempunyai korelasi yang tinggi dengan demokrasi.
Aliran baru teori modernisasi tersebut mengandung pemikiran bahwa nilai tradisional dapat berubah oleh karena dalam dirinya mengalami proses perubahan yang digerakkan oleh perkembangan berbagai factor kondisi setempat misalnya, factor pertumbuhan penduduk, teknik, apresiasi nilai budaya.
E.     Kajian Pustaka
Chuanqi, HE, The Civilization and Modernization, World Congress of International Institute of Sociology Social Change in the Age of Globalization 7th-11th July, Beijing, PR China
Eisenstadt, S.N. 1963. Need for Achievement. Economic Devolpment and Cultural Change XI: 420 – 31, july
Long, norman. 1987. Sosiologi Pembangunan Pedesaan. PT Bina Aksara, Jakarta
McClelland, D. C. 1961 The achieving society. Princeton: Van Nostrand.
Rostow, Walt W, The Stages of Economic Growth dalam Economic History Review, New Series, Vol. 12, No. 1 (1959), pp. 1-16, Cabridge: Blackwell Publishing
Smelser, N. J. 1959. Social Change in the Industrial Revolution. London; Routledge and Kegan Paul
Sztomka, Piotr. 2008, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada
Suwarsono, Alvin. 1991. Perubahan Sosial dan Pembangunan. PT Pustaka LP3ES, Jakarta
Weber . 1996, The Protestant ethic and the spirit of capitalism, Los Angeles: Roxbury Pub C

Kamis, 23 Mei 2013

Kurikulum Baru, Pengurangan Anggaran Akankah Berdampak Positif?



Jawa Pos Selasa 21 Mei 2013 pada halaman 16 memuat berita tentang rencana biaya alokasi kurikulum baru berjumlah 829 Miliar. Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan, anggaran akhir yang disusun berdasarkan BPKP berjumlah Rp. 829, 4 miliar karena sebelumnya berubah sebanyak tiga kali yakni pada 21 Desember 2012 anggaran untuk kurikulum berjumlah Rp. 631,9 miliar lebih sedikit dari jumlah yang akan disepakati sekarang. Kemudian koreksi kedua pada 9 April 2013 sejumlah Rp. 2,491 triliun jauh lebih tinggi dari jumlah yang akan disepakati.

            Namun ada yang menarik dari kutipan pernyataan yang dilansir oleh Jawapos Selasa, 21 Mei 2013 bahwa Mentri Pendidikan akan memprioritaskan bekas RSBI dan yang Akreditasi A. Sedangkan ciri  keberhasilan pendidikan adalah adanya pemerataan baik itu dari Infrastruktur, tenaga pendidik, dan komponen pembelajaran yang dimana salah satunya adalah kurikulum sebagai dasar dari kegiatan belajar mengajar. Ditinjau dari kajian sosiologis, bahwa pemerataan segala aspek dalam kesatuan komponen pendidikan itu  adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan oleh pelaksana pendidikan di Indonesia. Tidak hanya yang bertaraf internasional atau RSBI dan yang terakreditasi A saja, akan tetapi mulai dari sekolah baru berdiri, sampai sekolah yang bertaraf internasional, dari sekolah Formal, Informa, dan Nonformal. Selain itu juga untuk keselarasan dalam pelaksanaan pendidikan hendaknya kementrian pendidikan itu juga memperhatikan model kurikulum apa yang cocok diterapkan dalam sekolah.

            Sebenarnya, tidak ada permasalahan apakah anggaran untuk kurikulum akan dinaikkan ataukah diturunkan asalkan biaya tersebut benar-benar mencakup keseluruhan kebutuhan dari pelaksanaan kurikulum. Mencakup keseluruhan itu juga dalam hal kesejahteraan guru dan ketersediaan sarana prasarana pendidikan. Biaya boleh tinggi, namun fasilitas pendidikan itu semakin cukup dan tidak ada lagi keluh kesah bagi tenaga pendidik tentang kesejahteraan mereka.

            Kurikulum bukan sarana untuk ajang eksperimen atau percobaan, dapat kita lihat perkembangan dari perjalanan kurikulum di Indonesia yang pada tahun 1994, dimana kurikulum 1994 menginginkan adanya kolaborasi antara model kurikulum tahun 1975 dan 1984 yang mengutamakan pendekatan proses dalam pembelajaran pada kurikulum 1994 ini menggunakan sistim empat bulan atau catur wulan sebagai waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam setiap tahunnya dan kurikulum ini mengedepankan metode ceramah searah dari seorang guru sebagai model pembelajarannya. Kemudian pada tahun 2002-2004 kurikulum berganti lagi menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pada kurikulum ini sudah mulai menggunakan sistem semester dalam sistem pembelajaran dalam waktu setahun dan Kurikulum ini mengedepankan konsep keaktifan peserta didik dalam mengggali keilmuan. Akan tetapi tidak sampai lama ujucoba kurikulum ini dihentikan dan pada tahun 2006 berganti lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan astau KTSP. Kurikulum ini memberikan kewenangan kepada tiap-tiap sekolah untuk menentukan dan memberikan kebijakan.

            Proses sering bergantinya kurikulum ini berdampak meningkatnya proses pembiayaan untuk penentuan kebijakan pembuatan kurikulum baru, selain itu berdampak pada penyesuaian bagi para peserta didik yang selama ini peserta didik itu cenderung lambat dalam beradaptasi dalam proses perubahan kurikulum. Dalam proses Ujian Nasional Kemarin, ada beberapa guru yang menyebutkan salah satu kegagalan adalah karena sering berganti-gantinya kurikulum dalam proses pembelajaran. “Ya soalnya kurikulum sering berganti mas, mangkanya murid-murid cenderung bingung untuk menyesuaikan” ujar salah satu guru. Untuk mengantisipasi proses penyesuaian yang lambat dari adaptasi dari proses perubahan kurikulum itu hendaknya pemerintah memberikan kebijakan untuk memberikan kebebasan atau ketidak-terikatan terhadap suatu kurikulum kepada masing-masing sekolah tanpa memandang status akreditasi atau taraf dari sekolah tersebut. Karena setiap sekolah mempunyai proses pembelajaran yang berbeda entah itu negeri maupun swasta. Disesuaikan dari kebutuhan dimana letak sekolah itu berada, karena tidak mungkin sekolah yang berada di pedesaan tertinggal menggunakan sistem pembelajaran dengan menggunakan media yang sangat lengkap. Selain itu juga penetapan kurikulum yang sesuai dengan tepat sasaran kepada masing-masing sekolah, pergantian kurikulum juga menimbulkan kenaikan kebutuhan biaya untuk pengadaaan kurikulum baru.
            Jika ditinjau dari teori sosiologi, berbagai komponen dalam pendidikan dimana keseluruhan komponen tersebut agar dapat berjalan dengan baik dan semua berjalan dengan bagaimana seharusnya, maka perlu memperhatikan skema dari Talcott Parsons yaitu konsep AGIL (Adaptation, Goal Attaintment, Integration, Latency). Adaptation atau penyesuaian diri, disini kurikulum hendaknya menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungannya[1] agar tepat guna dalam penyesuaian penggunaan kurikulum dalam proses pembelajaran. Kemudian Goal Attainment yaitu bagaimana komponen tersebut mencapai tujuannya, adapun dari sudut pandang ini, tujuan dari pelaksanaan kurikulum adalah terlaksananya proses kegiatan belajar mengajar yang efektif, kemudian memberikan hasil yang positif bagi sekolah dan dirinya sendiri. Integration atau saling ada integritas, artinya setiap komponen dalam pendidikan harus saling memberikan dukungan positif agar proses pendidikan berlangsung dengan baik artinya jika ada keberhasilan dalam suatu pelaksanaan proses pendidikan maka setiap komponen dalam pendidikan tersebut berjalan dengan baik. Kemudian Latency atau kultural, setiap individu mempunyai kultural yang berbeda-beda setiap komponen dalam pendidikan hendaknya memelihara setiap kultur kerja yang baik sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan baik.


[1] George Ritzer dan Douglas J.Goodman. Teori Sosiologi Modern .

Teori Modernisasi Klasik



BAB 2
TEORI MODERNISASI KLASIK
Sejarah lahirnya : Teori modernisasi lahir dalam bentuknya sekarang ini paling tidak menurut tokoh-tokoh Amerika Serikat sebagi produk sejarah tiga peristiwa penting dunia setelah perang dunia II. Pertama : munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan dominant dunia Kedua : pada saat yang hampir bersamaan terjadinya perluasan gerakan komunis dunia Ketiga : lahirnya Negara- Negara merdeka baru di asia, afrika, amerika latin, yang sebelumya dijajah eropa. Tidak berlebihan jika karya kajian dari teori modernisasi jika dikatagorikan sebagai satu aliran ajaran pemikiran sendiri yang ditopang bahwa kenyataan para peneliti dan penganut aliran pemikiran ini sepertinya membentuk energi besar gerakan social yang besar memiliki dana yang kuat besar dan hubungan yang baik bagi para pendukungnya sering menerbitkan jurnal ilmiah dan seminar penelitian dan menerbitkan hasil kajian melalui badan penerbitan universitas.
Warisan Pemikiran.
Pewarisan pemikiran structural fungsionalisme ke dalam teori modernisasi terlalu lebih disebabkan kenyataan seperti Denial Larner, Marion Levy, Neil Smelser, Samuel Eisenstadt
dan Gabriel Almond, lebih banyak terdidik dalam pemikiran structural fungsionalisme sehingga dalam menyampaikan secara detail konsep-konseo pokok teori modernisasi disampaikan terlebih dahulu secara singakat pole pikir teori evolusi dan fungsionalisme
Teori evolusi
Teori evolusi lahir pada abad ke- 19 sesudah revolusi industri dan perancis yang menghancurkan tatanan lama tetapi juga membentuk acuan dasar baru, revolusi industri menciptakan ekspansi ekonomi, revolusi perancis meletakkan kaidah pembangunan politik yang berdasarkan keadilan kebebasan dan demokrasi, teori fungsionalisme pemikiran Talcott Parsons ketika sebagai ahli biologi banyak pengaruh teori fungsionalisme baginya masyrakat manusia tak ubahnya eperti organ tubuh manusia oleh sebab itu masyarakat manusia dapat dikaji sebagi tubuh manusia In kelas : manusia modern
Penelitian lain dari teori modernisasi klasik inkeles memusatkan perhatiannya pada usaha menjawab dari dua pertanyaan pokok yang telah ia rumuskan yakni : apa akibat yang ditimbulkan oleh modernisasi terhadap sikap nilai pandangan hidup seeorang dan apakah Negara dunia ketiga akan memiliki sikap modern dari sebelumnya.

Kamis, 08 Juli 2010

Mereka Sama, Hanya Tuhan Menentukan Kita Berbeda

Dalam benak kita tentu masih membekas haru biru ketika tanggal 26 Mei 2010,masih ingat ada apa dalam tanggal itu? mari kita flash back sejenak, sore itu hujan deras tak hentinya dari jam 2 siang sampai jam 5 sore. Kubuat secangkir kopi panas dan sebatang rokok dengan kadar nikotin rendah hanya untuk menghangatkan badan.

saya mendengarkan update terbaru tentang pertandingan PSPS Pekan baru VS Arema Indonesia d salah satu Station Nation Radio..yea!! pertandingan yang menentukan apakah singo edan mampu membawa trophy juara itu ke Bumi Arema di kota Malang atau gagal untuk kesekian kalinya. saat itu Arema Indonesia berhasil menahan imbang PSPS dan keluar sebagai juara ISL 2009-2010. Lansung tidak pikir panjang kubentangkan sajadah dan saya sujud syukur kepada Tuhan saya. bukan main betapa bersyukurnya saya waktu itu. Maklum selama hidup saya itulah saya merasakan kebanggaan yang pertama dalam hidup saya

Petang harinya saya mendapatkan sebuah SMS dari teman saya yang berbunyi "Chul,, Ayo konvoi,Kekuatan Aremania Maha Dahsyat Disini" mendapat SMS itu saya langsung memakai baju kebanggaan saya Biru-Biru bertuliskan "Aremania Sampai Mati" dan mengalungkan syal Biru usang yang selalu setia saya pakai selama mendukung Arema berlaga di kota juara ini.

Apa yang di kabarkan teman saya adalah benar adanya malam itu sekitar pukul 18.30 WIB di balai Kota Malang sudah menjadi lautan manusia berpakaian Biru-Putih-Merah-Hitam bertuliskan nama kebanggaan kami. Benar adanya kekuatan Aremania saat itu benar-benar membuat Samudra Biru di tengah kota malang. Tak pelak sampai pukul 12 malam. jalanan masih ramai oleh nyanyian kebanggaan Arek-arek malang ini

Namun dalam cerita pendek ini bukan maksud saya menceritakan bagaimana semua keadaan Euphoria itu, namun adalah saat ketika saya berkonvoi melewati jalan betek. Saya melihat semua warga berdiri di pinggir jalan hanya untuk menyaksikan sebuah atraksi keramaian jalanan oleh Aremania, maklum mungkin mereka menganggap mereka yang berkonvoi bak sebuah kesatria yg membela kebanggaan di dadanya.

ada yang unik disitu,dari jauh pandangan saya, terlihat ada seseorang melambai-lambaikan tangannya kepada semua yg konvoi disitu,diantara yang berdiri menonton kita berkonvoi, hanya dia sendiri yg terkesan "lebay",, awalnya saya hanya cuek saja. tak pernah terbesit, semakin motor saya mendekati dia. saya semakin melihat keadaan dia yg sebenarnya. saya terus memandangnya, dia sepertinya ingin bersalaman dengan semua yang berkonvoi itu. Mungkin yang ada dalam pikirannya adalah "Halo Kesatria,saya adalah penggemarmu"

saya langsung menghentikan motor saya di dekatnya. saya kembali memperhatikannya dengan lebih intensif. dia memandangi saya, dan menghampiri saya, Lalu memeluk saya dengan erat, dalam pelukannya dia berkata kepada saya "Mas AREMA juara, Arema juara!! saya bangga mas, saya bangga" tentunya dengan kalimat yang tidak jelas terdengar.

saya terheran, lalu saya memandangi wajahnya. ya setelah saya mempelajari ilmu psikologi pendidikan yang telah saya terima selama perkuliahan, saya bisa menyimpulkan dia adalah penderita Asperger’s Syndrome,atau sebuah penyakit AUTISME dengan keterbatasan berinteraksi sosial dengan sesamanya. saya merasa iba dengannya dia terus berbicara "arema Juara mas" dia kembali memeluk saya,tanpa tahu siapa identitas saya sebenarnya.

Saya menanyakan kepadanya "siapa namamu?" dalam keramaian klakson dan horn sang Aremania dia pun menjawab "Fariz mas,mas siapa?" saya tidak tega melihat keadaannya. bibir tebal dan tidak dapat tertutup rapat, mata tidak fokus terhadap pandangan kepada saya, kemudian anggota tubuhnya seolah bergerak sendiri tanpa perintah dari empunya. Saya kembali meliahat dia mencium i emblem AREMA yang ia kenakan di bajunya dengan penuh rasa cinta, dia cium logo itu secara berulang ulang.

melihat itu saya memeluknya dan saya menitikkan air mata. saya tidak peduli saya seorang lelaki dan itu penuh dengan AREMANIA yang bernyanyi malam itu. saya memeluknya erat dalam sanubari saya terbisik "Ini juga saudara saya,dia juga Aremania,dia juga bangga ketika Arema menjadi juara" dia menanyakan pada saya "Mas kenapa koq nangis?" saya malu ketika dia berkata begitu. saya mengalihkan jawaban dengan berbohong sambil menghapus setetes air mata saya "Mas bangga Arema juara,hehe,nama q ichal riz"

tanpa ada kesengajaan tuhan mempertemukan kami. dalam konvoi yang bahagia itu mendadak hati saya menjadi pilu karena bertemu dengan saudara saya sesama AREMANIA yang rela mendukung kesebelasan kebanggaan kota Malang dan tentunya kebanggaan Indonesia walau dengan keterbatasan mentalnya. Hati kecil saya kembali berbisik lirih "AREMA kamu juga patut berbangga punya supporter seperti mereka yang mendukung dengan segala kemampuan mereka, tuhan ijinkan saya bertemu lagi dengan AREMANIA seperti dia lagi

tuhan rupanya mendengar doa saya, 1 bulan berlalu ketika saya mengharuskan mengerjakan sebuah tugas skripsi. Dosen menganjurkan untuk uji coba angket di sebuah laboratorium autisme yang ada di kota juara, Malang ini. Saya masuk laboratorium dengan biasa saja. Tersentak saya melihat seorang yang tidak asing bagi saya. Tak ragu lagi kusapa dia “Farizzzz” dia menoleh kehadapku dia tidak lupa akan diriku sembari menyapaku “mas ichal” sambil tersenyum dan melangkah gontai karena keterbatasan mentalnya.
Setelah saya melakukan tugas saya, saya kembali menghampiri Fariz, saya banyak bertanya tentangnya yang saya dibuat terharu adalah dia menceritakan semua isi hatinya “Mas Ichal, meskipun saya seperti ini saya juga seorang Aremania, saya juga ingin mendukung Arema seperti mas, jika saya normal saya ingin berangkat ke stadion dan berdesak-desakan dengan mereka untuk menonton, Andai saja saya disediakan tempat di Kanjuruhan unuk saya duduk, pasti saya akan selalu datang dan bernyanyi untuk Arema”

Saya mendengarnya tak kuasa menahan pilu, saya tidak bisa membayangkan jika saya sebagai fariz. Seorang Aremania sejati dengan keterbatasan fisiknya. Mungkin saya ingin menyampaikan aspirasi saya tentang kasus di lapangan yang saya temui terhadap manajemen arema. Seandainya memungkinkan, di tribun VIP berkenanlah dibuat suatu tempat khusus untuk penyandang cacat seperti Fariz dan yang lainnya. Tak akan memakan banyak tempat dan menghabiskan kouta pendapatan jika stadion full

Tak bisa dikatakan sang juara sejati apabila Arema tidak memberikan kesempatan kepada fariz untuk duduk menyaksikan arema secara langsung. Fariz juga aremania sama dengan aremania lain yang bernyanyi di panggung kanjuruhan. Dia hanyalah figur yang terbatas fisiknya, bukan jiwanya. Dia tak punya raga yang tangguh untuk mendukung Arema tetapi dia mempunyai jiwa singa yang tak dimiliki oleh seorang manapun di dunia Ini, Arema beruntung mempunyai supporter se fanatik Aremania, tetapi Aremania tidak bisa dikatakan juara ketika Aremania tidak menganggap Fariz dan fariz-fariz lainnya sebagai bagian darinya.

Dedicated to “Fariz Eka Setyawan”
By : Faizal Kurniawan